<aside>

❝Nous ne cherchons ni la gloire, ni le pouvoir; nous les héritons, les préservons et les transmettons. Car un nom véritablement ancien ne se mesure pas à ce qu’il possède, mais à ce qu’il laisse derrière lui.❞

</aside>

Di lantai tertinggi gedung pusat Arnault Capital Group di Jakarta, di ruang kerja yang jarang dimasuki orang selain keluarga inti, tergantung sebuah potret tua berbingkai kayu gelap. Potret itu menampilkan seorang laki-laki berjas hitam dengan kumis rapi, berdiri tegak di depan sebuah bangunan bergaya Haussmann di Paris, difoto sekitar akhir tahun 1880-an. Di bagian bawah bingkai, terukir huruf kecil yang mulai memudar: Arnault Frères & Cie., 1887.

Bagi tamu yang datang untuk urusan bisnis, potret itu tidak lebih dari hiasan dinding tua yang sedikit ketinggalan zaman. Tetapi bagi orang-orang yang lahir dengan nama Arnault, potret itu adalah semacam pengingat harian atas satu prinsip yang telah dipegang keluarga ini lebih dari seratus tahun: jangan pernah menjadi berita. Jadilah yang membiayai berita itu.


Ada keluarga-keluarga yang mengejar nama besar. Ada pula yang justru menghindarinya, dan dari situlah kekuasaan mereka yang sesungguhnya tumbuh. Keluarga Arnault termasuk golongan kedua.

Sejak akhir abad kesembilan belas, mereka dikenal—tepatnya, dikenal oleh orang-orang yang perlu mengenal mereka—sebagai keluarga financier Prancis yang bergerak di private banking, corporate finance, perdagangan internasional, dan pengelolaan kekayaan keluarga-keluarga aristokrat Eropa. Mereka tidak menjual apapun kepada orang banyak. Mereka menjual kepercayaan kepada segelintir orang yang sudah memiliki segalanya, dan justru karena itulah kepercayaan mereka menjadi begitu mahal.

Pada 1887, keluarga ini mendirikan Arnault Frères & Cie. di sebuah gedung tua di kawasan finansial Paris, tidak jauh dari bank-bank besar yang namanya lebih sering disebut orang. Di dalam gedung itu tidak ada loket, tidak ada antrian nasabah, tidak ada apapun yang menyerupai bank pada umumnya. Yang ada hanyalah beberapa ruang kerja bergorden berat, meja-meja kayu yang mengkilap karena terlalu sering dilap, dan orang-orang yang bicara pelan meski sedang membicarakan angka-angka yang sangat besar.

Arnault Frères & Cie. menangani kekayaan keluarga-keluarga bangsawan, membiayai perdagangan, dan menanam modal pada perusahaan-perusahaan industri yang sedang tumbuh di Prancis. Mereka meminjamkan uang kepada perusahaan, mengatur penerbitan obligasi, membantu keluarga-keluarga kaya memindahkan aset dari satu negara ke negara lain tanpa menimbulkan pertanyaan, dan menjadi perantara diam-diam dalam perdagangan antara Eropa dan Asia. Setiap kesepakatan dijaga serapat mungkin, sebab bagi keluarga Arnault, nama baik bukan sesuatu yang dipamerkan, melainkan sesuatu yang dilindungi.

Kakek dari generasi yang akan menjadi pusat kisah ini pernah mengatakan kepada putra-putranya, dalam sebuah makan malam yang jarang dibicarakan lagi setelahnya; “Bank-bank yang namanya kalian baca di surat kabar setiap pagi, kita yang membiayainya. Ingat itu. Jangan pernah tergoda untuk menjadi bank yang dibicarakan orang. Jadilah bank yang membiayai orang-orang yang dibicarakan.”

Kalimat itu, entah bagaimana, terus diwariskan turun-temurun, kendati tidak selalu dengan kata-kata yang sama.


Dari pernikahan itu lahir tiga anak laki-laki: Henri-Louis de Arnault pada 1927, Charles-Auguste de Arnault pada 1930, dan Philippe-Antoine de Arnault pada 1934. Ketiganya tumbuh di rumah yang penuh dua bahasa dan dua cara memandang dunia—perayaan Tahun Baru Imlek di ruang keluarga, misa hari Minggu di gereja komunitas Prancis, meja makan yang kadang dipenuhi klien Tiongkok, kadang diplomat Eropa. Wajah mereka membawa garis keturunan ibunya, nama belakang mereka membawa garis keturunan ayahnya, dan keduanya, oleh Adrien-Henri maupun Zhang Meilan, tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang perlu dipilih salah satu.

Ada satu hal yang membedakan keluarga Arnault dari keluarga-keluarga konglomerat kebanyakan, dan hal itu semakin jelas terlihat pada generasi Gervais: mereka tidak sekadar mewariskan uang. Mereka mewariskan institusi, dan (tanpa pernah benar-benar merencanakannya) juga mewariskan kebiasaan untuk selalu berada di antara dua dunia sekaligus.

Mereka menikah setelah keduanya menyelesaikan pendidikan masing-masing, dalam dua rangkaian upacara yang sengaja dijaga terpisah; satu penuh adat Jawa, satu lagi dengan nuansa Prancis yang lebih sederhana namun tetap khidmat—sebagai penghormatan kepada dua dunia yang sama-sama tidak bersedia mereka lepaskan. Bagi Henri-Louis, yang menyaksikan putranya menikah dengan cara yang menggemakan pernikahannya sendiri dengan Sekarini bertahun-tahun sebelumnya, ada semacam pengakuan diam bahwa keluarga ini, sampai generasi mana pun, barangkali memang tidak pernah benar-benar bisa memilih hanya satu dunia untuk ditinggali.

Dari pernikahan itu, lahir empat anak dengan jarak yang cukup lebar satu sama lain: Gerard Théodore pada 1990, Lucia Adrianne pada 1993, Altheina Sereia pada 1996, dan Keefe Janaslan pada 2006, kejutan tersendiri bagi Gervais dan Saras di usia mereka yang telah lebih matang. Keempatnya tumbuh dengan watak yang jauh berbeda satu sama lain, seperti empat jawaban berlainan atas rumah dan warisan yang sama.

Yang paling banyak diperhatikan orang-orang di sekitar keluarga itu, seiring bertambahnya usia Gervais, bukanlah keempat anaknya, melainkan perubahan yang perlahan terjadi pada diri Gervais sendiri.

<aside>

Dia tidak berubah dalam semalam. Perubahan itu datang lapis demi lapis, tanpa pernah benar-benar bisa ditandai kapan tepatnya dimulai—sesuatu yang keras, yang sudah dibentuk sejak kecil, mulai terkikis oleh hal-hal sekecil cara seorang anak duduk di pangkuannya atau cerita panjang yang alurnya tidak sepenuhnya jelas namun tetap dia dengarkan sampai selesai.

</aside>